Archive for August, 2008
PBB, Jogging keliling kompleks Mosa tujuh kali (7 kali?? Dengan luas kompleks SMA Mosa 7,2 hektare), estafet siang-siang, permainan hadang, tolak peluru, basket, bulutangkis, voli, senam lantai, senam jantung sehat, senam pokarena, SKJ 2004, softbol, catur dan lain-lain, semua pernah saya jalani di sekolah tercinta SMA Modal Bangsa.
Betapa tidak, karena saya punya guru yang sangat hebat. Ketegasan dan kedisiplinan beliau memberi konsep yang baik bagi saya dan semua teman-teman saya. Walau pada awalnya terasa sangat berat namun setelah hampir 3 tahun menjalaninya ternyata ini benar “such an amazing education”. Ketegasan beliau membuat saya tidak lemah dan pantang menyerah serta tidak mudah pasrah terhadap keadaan. Kami pun menjadi jarang sakit dan lebih sehat Keikhlasan beliau untuk mendidik fisik dan mental kami tercermin dengan kehadiran beliau setiap hari minggu jam 6 pagi di sekolah untuk kegiatan bimsiktal. Apa manfaatnya? Kami jadi tidak tidur lagi sehabis shubuh^^. Setidaknya tubuh menjadi sehat dengan menghirup udara pagi dan belajar untuk tidak menjadi seorang pemalas yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur daripada berkreasi dan beraktivitas.
Salute to bu’ Icha!
Dan tidak hanya beliau, semua guru saya (dan saya yakin semua guru yang ada di dunia sekalipun) memang benar-benar seorang pendidik handal. Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah selalu HORMATI GURUMU. Karena tanpa mereka kamu gak akan menjadi seperti apa kamu sekarang.
I love my teachers!!!
Budaya, Budaya, Budaya…!!!
Zaman sekarang sungguh aneh. Terutama kita orang Aceh. Benar-benar bangsa yang pelupa. Lupa belajar, lupa melestarikan, lupa kembali, lupa sejarah, lupa budaya dan lupa-lupa yang lainnya.
Negeri ini sebenarnya begitu termahsyur dan strategis. Tapi itu dulunya. Sekarang? Mari kita tinjau bersama. Aceh merupakan negeri yang berada di pintu gerbang selat malaka, dulunya kemahsyuran Aceh tersebar hingga ke seluruh penjuru dunia. Orang Aceh terkenal dengan budaya agamisnya yang sangat kental, budaya kekeluargaan yang erat, budaya belajar yang kuat, budaya kepemimpinan, budaya kesenian yang memukau masyarakat internasional (saat ini siapa yang tidak mengenal tari Saman, bukan?), serta budaya bela negara yang amat fanatik (jangan pernah mengajak orang aceh berperang kalau tidak mau digeriliyai).
Zaman millenium sekarang ini siapa sih yang tidak mengetahui internet? Besar kecil, tua muda, miskin kaya, seluruh stakeholders era modern nan sophisticated ini telah menjadi bagian dalam dunia cyber yang telah begitu pesat perkembangannya.
Internet menawarkan dunia baru yang memberikan kemudahan berkoneksi, bersosialisasi, perdagangan, pers, hukum, politik, pemerintahan, pertahanan, kebudayaan serta segala aspek kehidupan tercakup di dalamnya. Internet mempersempit jarak dan mengefisienkan waktu. Untuk mengetahui keadaan dunia lain tidak perlu berbulan-bulan menunggu berita yang dikirim melalui pos atau utusan khusus layaknya zaman Fir’aun dulu. Kini, hanya dengan sepersekian detik, dua orang yang terpisah jarak ribuan mil dapat mengetahui kondisi masing-masing dan bertukar informasi dengan cepatnya. Bandingkan saja dengan keadaan sebelum internet ditemukan. Untuk mengetahui berita saja harus menunggu berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Hingga saat kita dapat mengetahui perkembangan dunia, informasi tersebut tidak lagi up-to-date atau sudah kadaluarsa. Betapa sulitnya. Ya kan?
Continue reading ‘“Internet” Menyajikan Dunia Pendidikan Tanpa Batas’
“Benarkah saya merdeka, Bapak? Merdeka dari kekangan rasa lapar dan haus hingga untuk mengatasinya saya harus mengamen di jalanan serta mengais makanan sisa dari tempat sampah. Benarkah saya merdeka, Bapak? Merdeka dari ketidaktahuan dan keterbelakangan hingga saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya bisa memakai seragam merah-putih itu. Benarkah kita merdeka, bapak? Merdeka dari jerat keserakahan dan keegoisan sampai-sampai negeri ini meraih prestasi gemilang sebagai salah satu negeri terkorup di dunia. Itukah yang dimaksud dengan merdeka, Bapak? Kalau memang seperti itu, bolehkah saya memilih agar kita tidak perlu merdeka saja?”
Cerita Belum Berjudul
Hidup berjalan dengan tak terdefinisikan. Meski Seribu tahun kita hidup hanya untuk mendengar kisah kehidupan, pastinya tak kunjung habis. Semua orang punya kisahnya sendiri, dan kisah itu terajut dengan sempurna membentuk jaring-jaring cerita yang menghubungkan mereka yang dipertemukan dan dipisahkan. Semua tertata harmoni karena kasih sayang Tuhan. Tuhan telah memberiku sebuah kehidupan, sebuah kisah sederhana yang biasa, yang mungkin tak kan pernah dicatat apalagi dikenang. Yang aku tahu hanya satu, Tuhan tahu kisahku. Tuhan tahu kisah kita.
Ketika Kita Tersentak
Suatu hari seorang malaikat turun ke bumi dan menghampiri seorang anak yang sedang duduk termenung di antara hamparan sawah. Malaikat itu mengajak sang anak melihat wajah negerinya yang sesungguhnya. Mereka berjalan ke hutan dan mendengar suara gerigi besi gergaji yang menyayat dan tangisan pepohonan. Satwa-satwa murka karena rumah mereka dirampas paksa dan mengamuk durjana, walau akhirnya jiwa mereka harus takhluk ditembus peluru senapan dan parang tajam. Mereka berjalan lagi ke pantai, melihat bagaimana manusia meracuni laut dengan bahan kimia kotor. Ikan-ikan mati tragis dan terumbu karang menangis. “Laut kami hancur”, desah sang anak. Malaikat mengajaknya berjalan lagi ke daratan dan melihat gunungan sampah terbentang yang mereka anggap sebuah keindahan. Meracuni udara dengan asap kotor ynag menyesakkan paru-paru. Mereka membunuh alam. “Bangsaku menghancurkan dirinya sendiri”, bisiknya pilu. Sang anak pun tertunduk lesu, hatinya sakit. Dan perjalanan mereka pun berakhir.
Ketika tak ada yang peduli…
“Aneuk Nanggroe” yang Kabur
“Malukah kalian dilahirkan sebagai orang aceh?”, dengan cepat mereka menjawab ‘Tidak’, “Tentu saja kami tidak malu. Kami bangga dilahirkan sebagai orang aceh, kami bangga akan bangsa aceh”. “Lalu kenapa kalian tidak pulang, wahai aneuk? Bukankah kalian telah berhasil menemukan cara dan solusi yang hebat untuk memecahkan masalah yang dialami bangsa ini? Kenapa tidak mengabdi pada tanah airmu, hai aneuk nanggroe?”, ucap Sang Poema sambil berurai air mata. “bukan begitu, nyak, di luar sini prospeknya lebih menjanjikan daripada di aceh, salary-nya lebih besar, nyak!”, sang poema pun tertunduk lesu mendengar penuturan putroe aceh-nya yang kini berkarir jauh di negeri belahan dunia lain.
Itulah siluet nyata seorang aneuk nanggroe. Miris memang. Ketika negeri ini sedang menanti-nantikan raja sabi-nya yang pergi menuntut ilmu di negeri lain untuk pulang dengan membawa cahaya pembangunan, tapi lagi-lagi ia harus berbesar hati menyadari aneuk nanggroenya telah lupa padanya.
Mungkin sebagian kecil di antara kita bisa berbangga hati dapat mengenyam pendidikan hingga ke luar sana, yang tentunya tidak semua orang berkesempatan mendapatkannya. Berapa banyak anak aceh yang telah berhasil meraih gelar sarjana, baik strata satu, magister, hingga strata tiga di luaran sana, tetapi yang mempostulatakan ilmunya di negeri sendiri masih amat sangat sedikit. Kalah prospek katanya.
Menggapai Pendidikan Yang Layak
“Human Genius is the source of all works, of arts and inventions. These are the guarantee of a life worthy of men. It is the duty of the state to ensure with diligence the protections”
Kata-kata tersebut merupakan tulisan yang terukir pada langit-langit kubah bangunan markas besar World Intellectual Property Organization (WIPO) di Geneva. Kalimat itu menyiratkan betapa seorang yang berpendidikan merupakan suatu yang dapat bernilai bagi semua, dan tugas pemerintahlah untuk melindungi dan mengembangkan kekayaan intelektual tersebut. Bangsa kita, sebenarnya memiliki kekayaan intelektual yang tinggi dan sangat variatif tetapi sayangnya tersedimentasi akibat kemalasan dan keskeptisan sikap sendiri. Kata-kata bijak ‘to build the nation, build the human quality first’, nampaknya bukan menjadi panutan kita dalam problema pendidikan.
Suatu bangsa akan maju jika mempunyai sumber daya manusia yang memiliki perspikuitas andal dan mau bekerja keras. Mungkin kita telah banyak mendengar contoh-contoh bangsa yang bangun dari keterpurukan dengan meletakkan sektor pendidikan sebagai prioritas utamanya. Contohnya saja Jepang, dengan dipelopori Kaisar Akihito yang berjuang untuk bangkit lagi setelah terjangan bom atom Amerika meluluhlantakkan negeri mereka. Atau Malaysia, yang dari segi usia lebih belia dari negeri ini namun dalam prosperity jauh di atas kita. Semua itu lagi-lagi karena mereka konsisten dalam membangun human qualitynya.
MULAI….
NO START NO END
TRIAL AND ERROR
PRINCIPAL OF LIFE


















Recent Comments